Wednesday, April 15

Generasi peniru

Apakah Anda bangga menjadi seorang peniru??... kalau saya sih bangga, tapi cukup untuk menit-menit pertama saja, karena setelah itu saya pasti akan malu. Bukan malu untuk meniru, apalagi kalau yang ditiru itu adalah hal-hal yang baik, tapi saya malu kalau saya tidak bisa membuat sesuatu yang lebih baik dari apa yang saya tiru.

Meniru itu boleh, tapi kalau kita mengembangbiakan sifat itu menjadi sebuah koloni atau komunitas generasi peniru, maka keadaannya akan manjadi jelek. Apa jeleknya,

Pertama sifat itu akan membuat kita bodoh

Kedua membuat kita tidak bisa berkembang atau menjadi malas berkembang

Ketiga hidup menjadi monoton

Keempat tidak akan ada perubahan dalam kehidupan ini

Kelima dia yang kita tiru bisa membuat lebih baik lagi, dan kita akan tetap menjadi penirunya

Keenam memalukan

Ketujuh.... masa’ sih! Sampean masih mau mencari lagi alasan kejelekan yang ke tujuh dan seterusnya? Apa tidak cukup ke enam hal diatas menyadarkan sampean bahwa meniru itu jelek? Ah, dasar Generasi peniru, masih saja mencari alasan untuk membenarkan alasannya...

Kehidupan yang terhimpit

Salah satu sumber munculnya kreatifitas adalah saat kehidupan kita ini terhimpit. Keadaan terhimpit itu bisa jadi memaksa kita untuk memutar otak lebih kencang dari biasanya. Namun bukan berarti kita selalu mencari-cari keadaan yang membuat hidup kita terhimpit lo..., apalagi sengaja membuat hidup kita jadi terhimpit... Wah, itu gak lucu.
Pelajaran yang bisa kita petik dari munculnya kreatifitas saat kehidupan ini terhimpit adalah, kita memperoleh pesan pendek yang sangat signifikan, apa itu? Pesan tersebut adalah, Jangan Pernah Takut Menghadapi Tantangan. Tantangan akan mengajari kita untuk tumbuh lebih tinggi dengan alami, bukan instan. Saya punya pengalaman. Suatu saat saya pernah mendapat job untuk menjadi pelatih teater guna diikutkan pada festival teater tingkat lokal, padahal saya sama sekali gak punya pengalaman di bidang itu. Tapi, saya juga segan menolaknya, karena saya sendiri ingin mencoba dunia baru tersebut. Alhasil, saya dituntut untuk belajar secara otodidak dengan waktu kilat tentang teater, itupun saya hanya berbekal buku apa adanya. Apesnya lagi, masa tenggang pementasan dan pemberian job itu gak lama-lama amat, belum lagi saya gak punya stok pemain. Namun, Alhamdulillah, berkat petunjuk Tuhan YME dan kenekatan yang ada di diri ini, tim teater saya berhasil keluar sebagai juara di festival tersebut, padahal tim yang lain dilatih oleh orang-orang yang berkompeten dengan mahkluk yang bernama teater itu.
Saya memetik buah ranum pengalaman menjadi pelatih teater. Tantangan itu, walau diawalnya terasa menjepit degup jantung dan otak saya, namun akhirnya plooong juga.... Walau bagi sampean itu hal kecil, namun bagi saya telah memberi ilmu yang sangat besar... Anda gak ingin seperti itu...???? Oh ya, kalau butuh pelatih teater bisa hubungi saya lo di 0852-33-888-3-87, he..he..he...

Kehidupan yang enak

Banyak orang bilang kehidupan yang enak itu membuat nilai kreatifitas jadi berkurang. Betul apa gak? Bisa betul, bisa tidak. Semua kembali kepada yang bersangkutan. Apabila selama ini seseorang menjadi kreatif karena ingin hidup enak, dan setelah hidup enak dia jadi pasif alias gak kreatif lagi, maka pernyataan diatas menjadi benar. Namun, jika seseorang akan terus menjadi kreatif, entah dia miskin atau tidak, maka pernyataan diatas mentah dengan sendirinya.

Menanggapi pernyataan Kehidupan yang enak membuat orang menjadi tidak kreatif mengingatkan saya pada banyak kekonyolan tentang kreatifitas. Gara-gara takut dianggap gak kreatif, banyak orang yang biasa hidup enak akhirnya tidak bisa menjadi enak. Dia lebih suka memilih kehidupan yang aneh-aneh, demi disebut sebagai orang kreatif. Berdandan yang kadang-kadang justru menjauhkan dia dari nilai-nilai kesopanan, menjalankan pola hidup yang melenceng dari kebenaran dan masih banyak lagi hal ’tak senonoh’ lainnya. Sedang bagi mereka yang gak punya, lebih parah lagi. Mereka memilih untuk ’menjadi kere’ dengan sebenarnya agar disebut sebagai golongan orang kreatif. Muali dari gaya hidup, pergaulan, orientasi hidup, pakaian, jalan dan sebagainya. Tak usah saya sebutkan contohnya seperti apa, sampean semua pasti juga sudah mengerti apa yang saya maksud.

Kreatif dan kreatifitas seyogyanya semakin menambah nilai dan mutu hidup seseorang, baik bagi dirinya, orang lain maupun di hadapan Tuhan. Jadi jangan salah artikan kreatifitas ya...

Pola pikir dan kata-kata yang membunuh kreatifitas

Berhati-hatilah terhadap pola pikir dan kata-kata yang dapat membunuh daya kreatifitas. Seperti apa pola pikir dan kata-kata itu? Sederhana saja. Kalau pola pikir dan kata-kata tersebut tidak menghargai nilai-nilai universal kehidupan, kebebasan dalam ber-intelektual dan ber-aktual maka sebaiknya Anda mulai waspada, karena pola pikir dan kata-kata tersebut tidak hanya berasal dari luar diri Anda, namun kemungkinan justru sebaliknya, diri dan otak Andalah yang paling banyak menyuplai pola pikir dan kata-kata itu.

Orang yang kurang kreatif, pola pikir dan kata-katanya mirip dengan sebuah roket yang diluncurkan dan dikontrol pergerakannya oleh remote computer. Dia memang hebat dan cepat, tapi dia gak akan bisa kemana-mana, bahkan tidak mampu menentukan pegerakannya sendiri. Sangat mudah sekali menebak apa yang dipikirkan atau diucapkannya. Orang-orang seperti ini cenderung membawa kehidupan yang monoton dan gak punya greget.

Orang yang kreatif akan cenderung untuk bergerak seperti air, dia bisa menyesuaikan diri dengan baik, dan mencari solusi dengan baik pula. Lihat air, untuk bisa terus bergerak dia tdak pernah berhenti mencari jalan, saat di gunung, dia pintar menghindari batu-batu yang terjal. Saat di bendung, dia bisa merembes ke bawah tanah atau menguap ke langit. Saat hujan, dimanapun dia jatuh, dia akan terus bergerak, baik dengan cepat atau lambat. Bahkan saat dilaut, dia pun tetap bergerak dalam arus laut... orang kreatif akan hidup seperti air. Pola pikir dan kata-katanyapun akan seperti itu, dia kaya akan pikir dan dia cerdas serta penuh spirit dalam berucap. Lalu pertanyaannya, seperti yang manakah, sampean....??

Ketakutan yang tidak perlu

Bagi kebanyakan orang kreatifitas itu menyenangkan dan mengasyikan, jadi tidak ada yang perlu ditakutkan, kecuali kalau dalam proses kreatif itu Anda berkeinginan terjun dari lantai 20 sebuah gedung tanpa alat pengaman sedikitpun, baru itu perlu ditakutkan karena itu sangat konyol. Dan tidak juga bagi sebagian yang lain, saat kreatifitas itu adalah suatu hal yang asing, tabu, diharamkan dan sangat menakutkan. Biasanya hal ini terjadi ketika mereka sudah berada di jalan yang aman, tempat empuk dan sangat nyaman. Ber-ulah dengan kata kreatif apalagi aksi kreatif seperti memainkan sebuah misteri yang penuh keangkeran dan bayang-bayang kegagalan.. Memang, suatu hal yang telah pasti, dan sangat enak, terkadang merupakan ’Hantu’ pembunuh keinginan kreatif yang sangat fatal. Namun saya tidak akan memprovokasi Anda yang telah hidup dalam pilot otomatis full kenyamanan untuk terjun bebas dan meninggalkan itu semua, Andai memang Anda tidak ingin. Artikel ini saya tulis, khusus untuk mereka yang seperti saya, suka bermain-main dengan kreatifitas, karena bagi saya yang disebut dengan kenyamanan dan kesenangan adalah saat kita dalam pergulatan kratifitas itu...

Apakah Anda ingin mencoba? Jangan takut, karena sekali lagi memang gak ada yang perlu di takutkan. Ambil misal, apabila anda sekarang adalah seorang musisi dangdut yang sudah mapan dan punya nama serta kehidupan keren, ingin beralih kreasi atau mengembangkan kreatifitas di musik keroncong, jangan ragu-ragu ya. Enjoy aja. Jangan takut salah, tidak bisa atau di cemooh orang sebagai kutu loncat-loncat. Kreatifitas Anda tersebut adalah sebuah kemajuan dan ide yang cemerlang. Apalagi, mungkin tidak ada yang akan memperjuangkan usaha itu selain Anda sendiri. Jadi, letakkan semua rasa takut Anda, dan mulailah untuk melanjutkan perjalanan. Kalau Anda masih merasa takut, hubungi saja saya. Insya Allah, saya akan temani Anda sampai Anda betul-betul yakin bahwa Anda betul-betul bisa untuk semua itu..... Kalau perlu ta’ temani dehc, sampai sampean bobo, gimana, hayo....

Malu : Pembunuh kreatifitas No. 1

Jangan pernah merasa malu untuk menjadi kreatif. Malu itu boleh dan sah untuk hal-hal yang ’layak’ untuk dijadikan malu, umpama malu kalau kita di jalan umum gak pakai baju, malu kalau kita gak peduli dengan nasib orang lain, malu kalau kita melanggar tata tertib lalu lintas dan seterusnya... Tapi jangan pernah malu untuk menjadi kreatif. Kegagalan dan mungkin dianggap orang idiot ketika kita memperjuangan suatu kratifitas adalah hal wajar, sewajar kita kalau berada di terik matahari terus merasa panas dan kegerahan. Itu gak apa-apa. Jangan pernah menghentikan kreatifitas Anda dengan alasan Anda malu kalau disebut sebagai orang aneh! Ingat Bill Gates? Dia gak pernah merasa malu secara berlebihan keluar dari kuliah keren-nya dan mimilih untuk mnejadi ’peBisnis’ terus melobi perusahaan-perusahaan yang nota bene lebih ’mengkilat’... hingga akhirnya dia betul-betul sukses.
Buang malu sekarang atau Anda tidak akan pernah menjadi orang kreatif yang sukses.

Saturday, April 11

Orang tua yang terlalu sayang

Kisah Satu

Ada kisah tentang monyet yang selalu di beri makan oleh kedua orang tuanya sampai dewasa. Suatu saat ada pemburu datang di hutan dimana ketiga monyet itu hidup. Pemburu itu berhasil menembak ’ibu’ dan ’bapak’ monyet tadi saat sedang mencari makan untuknya. Akhir kisah, dua minggu setelah kejadian itu, seorang pencari kayu bakar, menemukan seekor monyet mati di tengah-tengah kebun pisang yang sedang berbuah lebat. Tahukah Anda monyet mana lagi itu? Ya betul, itu adalah monyet yang ditinggal mati oleh ’ibu’ dan ’bapak’ monyet tadi...

Kisah Dua

Hiduplah seekor beruang kutub sendirian, sebab ’ibu’ dan ’bapaknya’ telah mati ketika ada bencana longsor beberapa tahun yang lalu ketika usianya baru genap satu bulan. Sejak saat itu dia hidup sendiri, mencari perlindungan, makan, bermain dan berpetualang sendiri. Betul betul sendiri ditengah-tengah ’gurun salju’ yang putih, dingin dan tanpa batas...

Pertanyaan :

Apa nilai yang bisa kita petik dari kisah diatas?... Tulis minimal 20 jawaban Anda diatas kertas dengan jelas...

Renungan :

Jangan gila dengan meninggalkan anak kecil seorang diri untuk hidup sendiri, tapi alangkah lebih gila lagi kalau selalu mendikte anak dalam kehidupannya hingga dia tak tahu apa-apa. Mari bersikap bijak dan pro pembangunan untuk masa depan anak-anak yang lebih baik, karena setiap kehidupan memiliki keunikan dan keindahannya tersendiri. Ingat kata-kata sederhana dalam Film Jurassik Park? ” Alam akan menemukan kehidupannya sendiri.... So, tugas kita cuma melihat, menemani, mendampingi dan menjadi penyeimbang yang cerdas... Insya Allah Mereka akan menemukan kehidupan yang labih baik...

Sekolah : Musuh dalam selimut untuk kreatifitas.

Anda boleh setuju, boleh pula tidak dengan judul artikel ini. Namun, menurut saya, itulah faktanya. Banyak anak-anak ’pintar’ setalah dia sekolah, tapi semakin bertambah ’pintar’, sejalan dengan itu pula dia semakin beku dalam ’kreatifitas’. Sehingga tidak mengherankan, bila semakin banyak lulusan sekolah muncul, masalah di negeri ini semakin pula bertambah. Bila memang sekolah mendidik anak untuk semakin canggih, tentu dengan semakin banyak lulusan yang dihasilkannya, negeri ini akan semakin maju. Tapi nyata-nya?

Sekolah telah membunuh kreatifitas secara sistematis, dan ironisnya hal itu di-amin-i oleh seantero orang di bumi Indonesia. ”Banyak orang merasa gengsi kalau anaknya gak sekolah” walau ujung-ujungnya, bukan semakin baik tapi semakin mengenaskan. Lalu apa sekolah perlu dihapus? Saya tidak bilang begitu, cuma marilah kita menyadari sepenuhnya fakta ini, sehingga kita bisa mengambil keputusan yang bijak dengan akal jernih. Dan untuk pelaku di sekolah, mulai dari bapak – Ibu Guru sampai adik2 pelajar, artikel ini semoga bisa jadi cubitan kecil untuk kalian semua, walau di benak masih ada pertanyaan besar, ”Hei, Mas Yuyun, Kreatifitas sisi mana yang dibunuh oleh sekolah....?” Saya gak akan jawab pertanyaan itu, kenapa? Sebab kalau kita mau jujur, sebenarnya kita sudah mengerti jawabannya. Jangan malas mencari jawabannya sendiri, dong, katanya mau jadi orang kreatif.....

Keterangan : ’pintar’ yang dimaksud diatas adalah pintar menurut bahasa sekolah dan ’kreatifitas’ yang dimaksud diatas adalah menurut kebutuhan nyata dalam kehidupan ini.